Solusi BBM Jangan Jangka Pendek
JAKARTA-Bank Indonesia (BI) meminta pemerintah tidak menyelesaikan
permasalahan BBM secara jangka pendek. Tanpa solusi jangka panjang,
masalah yang dihadapi saat ini akan berulang di tahun-tahun mendatang.
"Kalau jangka pendek akan selalu terjadi dilema antara kenaikan harga
BBM dan besarnya subsidi. Ini akan berulang tahun depan. Kita harus
segera menyusun penyelesaian jangka menengah dan panjang," kata Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi XI DPR kemarin.
Menurut Hartadi, harus ada upaya keras untuk meningkatkan lifting
minyak. "Sehingga kalau harga minyak tinggi, kita bisa memanfaatkan potensi kenaikan harga. Kita harus mengeksplorasi minyak sebanyak mungkin," kata Hartadi.
Solusi jangka panjang lainnya adalah pengembangan energi alternatif,
terutama biofuel. Hartadi mengatakan, bahan baku biofuel seperti CPO,
gula, dan jagung, semuanya bisa diproduksi oleh Indonesia. "Tapi sayang
sekali kita tidak memiliki strategi mengembangkannya," katanya. Selain
biofuel, juga banyak potensi energi alternatif lainnya seperti tenaga
angin, matahari, dan gelombang laut.
Hartadi menambahkan, saat ini memang sudah berakhir era minyak murah.
Saat ini, harga minyak bukan saja dipengaruhi oleh permintaan dan
penawaran. Namun juga dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap komoditas
tersebut, karena minyak diperdagangkan pula seperti di pasar sekuritas. "Jadi
harganya bisa dipermainkan," katanya.
Lucunya, lanjut Hartadi, OPEC (organisasi negara-negara pengekspor
minyak) tidak mau meningkatkan produksi, karena dianggap sudah sesuai
dengan permintaan. "Ini bisa menjadi spekulasi di pasar," kata Hartadi.
Hartadi mengatakan, stimulus fiskal saat ini masih terbelenggu oleh
beban subsidi. "Bukan subsidi yang memberatkan, tapi besarnya subsidi.
Apakah subsidi BBM dan listrik yang di atas Rp 200 triliun bisa kita
terima secara wajar?," kata dia. Hartadi berpendapat, subsidi harus
direalokasikan ke sektor pangan.
Pengawasan BLT Di sisi lain, pemerintah bakal melibatkan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan) untuk mengawasi program Bantuan Langsung Tunai (BLT). "Pengawasan BLT, BPKP dilibatkan. Beberapa pengawasan sampai ke daerah kita libatkan. Tidak terlalu ribet karena disalurkan melalui kantor pos," kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzetta di kantornya kemarin.
Paskah menambahkan, jika diperbaiki, jumlah Rumah Tangga Miskin (RTM) justru lebih sedikit dari data awal 19,1 juta. "Pemerintah tidak membuka pendaftaran baru. Kita punya estimasi bahwa ini tidak akan terjadi penambahan," ujar Paskah. (sof)